Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” {QS 71: 13}

Lalu masih mengandalkan makhluq, membanggakan ilmu, & bertawakkal pada diri?

Lalu mengabaikan perintahNya, mempertanyakan aturanNya, meragukan hukumNya?

Lalu merasa aman durhakaiNya, tenang saja bermaksiat, & menikmati dosa-dosa?

Lalu patah arang dalam susah, putus asa pada taqdir, menyerah kala diuji?

Lalu penuh buruk sangka, membanding-bandingkan anugrah, & meremehkan karunia?

Sungguh ibadahmu tak cukup membayar rizqiNya & usahamu pun tak sebanding karuniaNya.

Merasa doamu tak dijawab padahal berlimpah yang diberikanNya tanpa kau minta.

Lalu takut menyampaikan yang benar & mencari ridha manusia dengan murkaNya?

Lalu dunia lebih kau pentingkan dari akhirat, yang fana kau utamakan dari keabadian?

Lalu harta terlihat kemilau, tahta tampak megah, & hidup melalaikanmu dari hisabNya?

  • from Salim A Fillah tweet

kultwit ustad @felixsiauw sukaaaa😀

1. penghargaan terbesar pada seorang Muslimah | ialah semata mencintainya karena ketaatannya pada Allah

2. bila cinta dijangkar pada materi | maka hilang harta cinta pun pergi

3. bila karena wajah cinta bersua | maka cinta terpisah seiring tua

4. bila cinta karena lekuk badan maka itulah syahwat | dan nafsu pasti berujung pada penyesalan maksiat

5. maka jangan hanya tampil cantik dan menarik | karena engkau hanya menarik lelaki dengan maksud tak baik

6. maka tidak perlu sintal tubuhmu dinikmati umum | dia betul-betul menarik bagi lelaki mesum

7. indah dirimu untuk suamimu | buat kecantikanmu sepadan ilmu

8. solek wajahmu biar suamimu tersenyum | jadikan hafalanmu sebabnya jadi kagum

9. paksa jiwa dan ragamu terbiasa dalam taat | agar khawatir dalam sekecil apapun maksiat

10. kelak ada lelaki yang menghargaimu bukan karena dunia | dia menghormatimu karena agama

11. kelak ada yang memilihmu hanya karena ketaatan | dan engkau berikan indah dirimu seutuhnya sebagai tambahan

12. Muslimah mulia sebab taatnya | dipilih karena ia mulia

🙂

8. solek wajahmu biar suamimu tersenyum | jadikan hafalanmu sebabnya jadi kagum

Nafsu tersembunyi

■ ■ NAFSU TERSEMBUNYI ■ ■

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak.

••••••••••••••••••••••••●●●●
Menuturkan lembaran episode hidupnya, Ahmad bin Miskin bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.

Maka aku berazam untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan jalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.

Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata: “berikan makanan ini kepada keluargamu.”

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:

“Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan.”

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. “Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu.

Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu.

Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku.

Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah.

Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr terbang kegirangan mendatangiku.

“Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.

“Subhanallah….!”, jawabku kaget. “Dari mana datangnya?”

“Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta”, ujarnya.
“Terus?”, tanyaku keheranan.
“Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.

Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melajit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.

Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.

Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :

“Kalimat puji dan syukur kepada-Nya berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukurku, segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang.

Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih.

••••••••••••••••••••••••●●●●
Suatu malam, aku tidur dan bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain.

Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing-masing di punggungnya.

Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA (kota tempat tinggal, pent), isinya hanyalah dosa-dosa dan hal hal yang menghinakan.

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal.

Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu daun timbangan, sedangkan amal baikku di daun timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku.

Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.

Namun alangkah ruginya, ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu nafsu itu.

Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara, “masihkah orang ini punya amal baik?”

“Masih”, jawab seseorang. “Masih tersisa ini.”

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.

Habis sudah harapanku.
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.

Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekan.

Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.

Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus turun. Hingga akhirnya aku mendengar seseorang berkata, “Orang ini telah selamat.”

■■SELESAI■■

••••••••••••••••••••••••●●●●
Adakah terselip dlm hati kita hawa nafsu ingin dilihat hebat oleh org lain pada amal-amal perbuatan kita?

Buang sekarang keinginan itu.. biarkan hanya untuk Allah saja. Karena segala sesuatu yang selain karena-Nya hanya tipuan kosong belaka.

Astaghfirullah….

I want to get married

Daughter: Dad, I want to get married.

Father: That is a good thing to wish for. What kind of man do you want?

Daughter: I want a life of luxury and ease. So, I would like a man who can help me achieve that life. 

The father became worried by her words. 

Father: Umm…I’ve never known you to be like this. I’ve never even seen you with a jewellery in your possession other than the ring your late mother left you, the same ring I married your mother with. If you were to sell it, the money you get won’t be enough to buy you anything of value. Honestly my dear, I am surprised by your ambitions. 

Daughter: Dad, the luxury I seek cannot be bought by gold or diamonds. The ease I wish for cannot be offered by any wealthy man. I seek the luxury of Jannah and the ease of being in the company of the Prophets. I seek the life of luxury and ease that Mum is enjoying right now insha Allah, because I see you as the kind of man who has helped her made it there. I am sure, she has helped you as well and you will be in her arms once again. 

The father can’t hold his tears anymore. 

Daughter: Dad?

Father: Yes, my dear?

Daughter: Is there a man out there who can offer me what you have offered Mum?

Father: I pray for a man who can offer you more. Much more. 

In tears, they embraced each other tightly, in front of the grave of the wife and the mother who bonds them together.

https://www.facebook.com/aimanazlan90

lelaki-wanita terindah

1) Lelaki terindah di mata wanita bukanlah yang paling tampan wajahnya; melainkan yang bisa membuatnya merasa sang tercantik di dunia. #MKMM

2) Lelaki tergagah di hati wanita bukanlah yang paling kekar ototnya, melainkan yang mampu mendengar, memahami, & mengerti curahan hatinya.

3) Lelaki terkaya bagi wanita, bukanlah yang terbanyak hartanya. Tapi dia yang pandai bersyukur & mengungkapkan terimakasih padanya.

4) Lelaki tershalih bagi wanita, tak sekedar yang banyak ilmu agama & rajin ibadahnya; tapi juga dia yang paling mulia akhlaqnya.

5) Lelaki terhebat bagi wanita, bukanlah yang mampu membelikan apapun untuknya; tapi yang wajah & bahunya siap menyambut senyum dan airmata

6) Lelaki tercinta bagi wanita; dia yang prasangka tak mengalahkan kemuliaan budinya; yang kekesalan tak mengalahkan pengertian dan maafnya.

7) Wanita tercantik bagi pria terbaik; mungkin bukan yang paling jelita; tapi yang jika dipandang memberi tenang, hingga surgapun terbayang.

8) Wanita terkuat bagi pria semangat, bukanlah dia yang merasa hebat; tapi yang menundukkan diri dengan ibadat, menempatkan diri dalam taat.

9) Wanita terdahsyat bagi pria penuh tekad, bukan yang pesonanya memukau banyak mata; tapi yang siap jadi madrasah cinta bagi anak-anaknya.

10) Wanita paling kukuh di kehidupan pria nan utuh, bukan yang tak pernah menangis; tapi senyumnya meneguhkan; airmatanya pengingat taqwa.

11) Wanita paling bermakna bagi pria bahagia; dia yang kala berpisah menenangkan, kala berjumpa menggelorakan, tiap masa saling menguatkan.

12) Wanita terkaya di hati pria jatmika, bukan yang bertumpuk harta; tapi yang ridha pada halal semata; qana’ahnya jadi simpanan tak fana.

13) Pria-Wanita paling sakinah bukan yang tak pernah bersengketa; tapi awal-awal yang saling terjaga dari dosa karena kehadiran pasangannya.

14) Pria-Wanita paling sakinah bukan yang tak pernah tergoda di luar sana; tetapi yang bertekad bahwa cuma pada yang halal cinta dilabuhkan.

15) Pria-Wanita paling sakinah bukan yang sama diamnya; tapi yang membangun tautan hati; kadang bicara tanpa kata, mengerti tanpa menanti.

16) Pria-Wanita paling sakinah tak hanya tentram kala bersama; tapi jua kala berpisah; saling menitip pada Allah, saling percaya karenaNya.

17) Pria-Wanita paling mawaddah tak hanya mencintai dengan caranya; tapi belajar selalu wujud cinta macam apa yang diharapkan pasangannya.

18) Pria-wanita paling mawaddah tak merasa telah mengenal pasangannya; baginya sepanjang hidup ialah ta’aruf yang menyediakan kejutan indah.

19) Pria-wanita paling mawaddah menerima pasangan apa adanya, tanpa menghalangi saling menguatkan tuk menjadi semakin baik di bilangan hari. sumber twit ust Salim A. Fillah

*edisiisengcopasyangbeginian😛
** demiupdateblog (facepalm)

 

~ sebenernya ga iseng2 banget sih, someday pingin diprint terus dipajang di dinding rumah agar selalu jadi pengingat. Jadi di dalam rumah akan ada lelaki dan wanita terindah – insyaallah _ aamiin

rizky “Dari Mana” & “Untuk Apa”

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut, gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya menujumu.

Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka melalaikan ketaatan padaNya demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya adalah kekeliruan berganda.

Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan jawaban “Dari Mana” & “Untuk Apa” atas tiap karunia.

Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka; tapi apa yang dinikmatinya.

Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya; demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.

Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.

Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat, & berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.

Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki bayinya? Ikhtiar itu laku. Rizqi itu kejutan.

Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang dari arah tak terduga. Tugasnya cuma menempuh jalan halal; Allah lah yang melimpahkan bekal.

Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap saat menjemputnya & jawab soalanNya, “Buat apa?”

Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya dunia; lupa bahwa semua hanya “hak pakai” yang halalnya akan dihisab & haramnya akan di’adzab.

Banyak yang mencampakkan keikhlasan ‘amal demi tambahan harta dikata tuk bantu sesama; lupa bahwa ‘ibadah apapun semata atas pertolonganNya.

Inilah hidup kita; Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in; kita mengibadahiNya & memohon pertolonganNya agar mampu menyempurnakan ibadah padaNya.

Dengan itu kita mohon “Ihdinash Shirathal Mustaqim”; petunjuk ke jalan orang nan diberi nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di akhirat.

Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan nikmatNya-lah menjadi sempurna semua kebajikan.

 

dari twitnya ust. Salim A. Fillah